KEREN!Pertandingan Penuh Drama, The Hese Murag Amankan Tiket Final Gumilar Cup III 2026

KARUHUN, Pameungpeuk — Ada yang berbeda ketika The Hésé Murag bertanding. Saat pasangan lain mulai goyah ketika tertinggal jauh, pasangan juara bertahan H. Iyuy/Yoga Subagja justru terlihat semakin tenang.

Hal itu kembali terbukti pada laga semifinal Gumilar Cup III 2026 Kelas B di GOR Desa Pameungpeuk, saat The Hésé Murag menundukkan pasangan muda asal Cisewu, Wildan/Rohwan, dengan skor 30-27 dan memastikan tempat di partai final.

Kemenangan ini sekaligus memperpanjang cerita _epic comeback_ yang kini seolah menjadi identitas mereka.

*Tertinggal Tujuh Poin, Penonton Mulai Khawatir*

Sejak awal pertandingan, Wildan/Rohwan tampil agresif dan penuh percaya diri. Dukungan moral sebagai penantang tanpa beban membuat pasangan muda asal Cisewu itu mampu mengendalikan permainan.

The Hésé Murag bahkan sempat tertinggal cukup jauh pada kedudukan 8-15.

Margin tujuh poin tersebut mengingatkan publik pada laga perempat final sebelumnya saat H. Iyuy/Yoga tertinggal 1-14 sebelum akhirnya menang 30-20 atas Adi Tower/Furkon.

Namun kali ini lawan yang dihadapi adalah pasangan muda dengan stamina prima dan kecepatan tinggi.

Sorak pendukung dari Cisewu mulai terdengar lebih dominan.

*Mesin Diesel Mulai Panas*

Memasuki pertengahan pertandingan, The Hésé Murag perlahan mulai menemukan bentuk permainan terbaiknya.

Saat skor menunjukkan 13-17, momentum perlahan mulai bergeser.

Poin demi poin berhasil dikumpulkan hingga akhirnya pasangan asal Pameungpeuk itu mampu menyamakan kedudukan menjadi 21-21.

Sejak momen tersebut, pertandingan berubah menjadi duel mental.

Dan di area inilah pengalaman berbicara lebih keras daripada tenaga.

*Yoga Subagja Jadi Otak Permainan*

Kebangkitan The Hésé Murag tidak lepas dari peran sentral Yoga Subagja.

Yoga tampil layaknya seorang playmaker yang mengendalikan ritme pertandingan. Ia mengatur tempo, memancing lawan keluar dari pola permainan, lalu mengeksekusi serangan cepat ketika momentum tiba.

Ketika lawan mulai kehilangan ritme, Yoga tampil semakin leluasa melakukan penyelesaian di area depan.

*H. Iyuy Jadi Penentu dari Belakang*

Sementara itu, H. Iyuy kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pemain berpengalaman.

Tidak banyak smash keras yang dilepaskan. Namun hampir setiap pukulan memiliki tujuan.

Dengan penempatan bola yang akurat dan variasi arah serangan, H. Iyuy memaksa lawan mengembalikan _shuttlecock_ dalam posisi tidak ideal.

Bola-bola tanggung itulah yang kemudian dimanfaatkan Yoga untuk melakukan finishing cepat di depan net.

Kolaborasi keduanya menjadi semakin efektif seiring meningkatnya tekanan pertandingan.

*Pengalaman Menjadi Pembeda*

Wildan/Rohwan sebenarnya tampil luar biasa sepanjang pertandingan. Mereka bahkan beberapa kali berada di ambang kemenangan.

Namun ketika laga memasuki poin-poin kritis, pengalaman menjadi faktor pembeda.

The Hésé Murag tampil lebih tenang, lebih sabar, dan lebih efisien dalam memanfaatkan peluang.

Dari posisi tertinggal cukup jauh, mereka berbalik unggul dan akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 30-27.

Usai memastikan tiket final, Yoga Subagja mengaku bersyukur mampu melewati tekanan yang diberikan pasangan muda asal Cisewu tersebut.

> “Wildan/Rohwan bermain sangat baik. Mereka cepat, berani, dan membuat kami terus berada dalam tekanan. Alhamdulillah kami bisa tetap tenang. Kuncinya jangan panik meskipun tertinggal. Kami percaya pertandingan belum selesai sebelum poin terakhir,” ujar Yoga.

Mengenai laga final, Yoga memilih tidak terlalu memikirkan status lawan maupun peluang juara.

> “Final ya bonus buat kami. Dari awal kami hanya ingin memberikan permainan terbaik. Siapa pun lawannya harus dihormati. Yang penting kami bermain maksimal dan menikmati pertandingan,” tambahnya.

Senada dengan Yoga, H. Iyuy menilai pengalaman menjadi faktor penting dalam membalikkan keadaan.

> “Anak-anak muda sekarang bagus-bagus, tenaganya kuat dan permainannya cepat. Kami tidak bisa melawan dengan tenaga, jadi harus melawan dengan pengalaman, penempatan bola, dan kesabaran. Alhamdulillah hari ini berhasil,” kata H. Iyuy.

*Final: Pameungpeuk vs Cisompet*

Di partai final, The Hésé Murag akan berhadapan dengan wakil Cisompet, Arin/Ganjar, yang pada semifinal kedua berhasil mengalahkan pasangan Nova/Miki asal Cisewu.

Pertemuan tersebut diprediksi menjadi laga yang tidak kalah menarik. Di satu sisi ada The Hésé Murag yang datang dengan pengalaman dan mental juara. Di sisi lain, Arin/Ganjar tampil impresif sepanjang turnamen dan berhasil menyingkirkan lawan-lawan tangguh untuk mencapai partai puncak.

Meski berstatus juara bertahan, H. Iyuy mengingatkan bahwa final adalah pertandingan yang berbeda.

> “Kalau sudah final semua punya peluang yang sama. Arin/Ganjar tentu bukan pasangan yang bisa dianggap enteng. Kami harus pulih dulu dan mempersiapkan diri sebaik mungkin,” ujarnya.

Satu kemenangan lagi akan mengantar The Hésé Murag mempertahankan mahkota juara. Namun jika melihat perjalanan mereka sejauh ini, publik tampaknya sudah belajar satu hal:

Jangan pernah menghitung mereka kalah terlalu cepat. Sebab The Hésé Murag selalu punya cara untuk bangkit.

***
Gons Halmahera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *